Rabu, 05 September 2018

Menata Hidup

Menjalani hidup tanpa rencana, pasrah saja besok pagi bagaimana, terdengar semudah itu keyakinanku.
Aku ingin hidup yang hidup, setidaknya untuk saat ini.
Sungguh sebenarnya susah dilakukan, takut dihalau kecemasan, malu mengakui keraguan.
Yang ingin dimohonkan detik ini dan seterusnya adalah kesehatan dan panjang umur untuk ayah dan ibu.
Semoga senantiasa diberikan rejeki oleh Tuhan.



Selasa, 21 Agustus 2018

Renjana

Untuk kamu, S, yang ku kasihi sepenuh hati walau kadang membuat emosi.
Tak apa terpisah jarak, tak apa dirundung rindu. Hidup memang begitu.

Ke Taman Hiburan, Menghibur Diri Melihat Hewan

Tapi yang ku lihat hanyalah kesedihan, dari matamu...






Jumat, 20 Juli 2018

Sekali Lagi?

Aku rindu mengunyah kurma beku yang rasanya tidak terlalu manis tapi dingin di pelataran masjid Quba setelah shalat Dhuha dengan bersempit-sempit ria karena berebut karpet sajadah yang masih kosong dengan ibu-ibu arab yang tidak sabaran untuk bergantian shalat. Aku rindu mencium aroma khas harum karpet masjid Nabawi yang terendus saat sujud tiap shalat fardu. Aku rindu berjejal dan bersabar menunggu bersama dengan rombongan jamaah perempuan Pakistan di pintu nomer satu dan berlari sekuat tenaga entah ke arah mana namun menuju raudhah dan menangis sejadi-jadinya dalam shalat sunah dua rakaat di depan makam Nabi bersama adikku. Aku rindu saat-saat termangu menatap tidak percaya bisa berhasil menyentuh dinding Ka'bah yang mana setiap hari manusia di bumi ini bersujud ke arahnya.


Rabu, 20 Juni 2018

Membuat Sendiri

Semenjak sering lihat-lihat online shop, membanding-bandingkan barang online shop satu dengan lainnya, baca details bajunya di description box nya aku jadi merasa "Yaelah barang tipis gitu aja tiga ratus ribu". Muncul mental proletar yang susah diajak tampil penuh gengsi. Terus suatu sore ibuku tau aku akan gathering buka bersama dengan rekan kantor di luar kota, ibuku iba karena bajuku itu-itu aja ngga menarik dan membosankan. Terus besoknya diajak beli kain kiloan di Jalan Solo yang mana itu juga surga kecil ibuku karena pasti setelah keluar dari situ hari-harinya tak akan bingung lagi karena akan disibukkan dengan kegiatan menjahit. Dibelikannya aku kain yang disuruh pilih sendiri di tumpukan yang brutal sekali mawutnya. Sistem penjualannya adalah tidak milih kain lalu dihargai permeter gitu sister, tapi milih kain terus request berapa meter sama mas yang pegang gunting sama meteran, lalu kain pilihanmu akan ditimbang, nah itu dia kainmu dihargai seperti kita membeli jeruk di Superindo, ditimbang berapa kilo lalu dikalikan harga perkilonya. Kalap. Ibuku kemarin yang katanya iba dengan anaknya beli kain sampai setengah juta lalu yang untuk anaknya cuma jadi 2 lembar baju saja, sisanya? Ya buat ibuku sendiri.