Senin, 08 Juni 2015

Menantang Diri Sendiri : Pergi Ke Jakarta

Jadi ini adalah hari ke 10 ku di Jakarta. Kesan selama 10 hari di Jakarta adalah, panas dan gerah. Keterlaluan panasnya. Tiap keluar rumah fenomena rutin yang terjadi adalah kemacetan. Iya macet parah setiap hari, pagi siang sore dan malam. Gila banget. Orang ngabisin waktu cuma buat di jalan aja. Berangkat pagi pulang malem, dan itu bener-bener ngga kerasa. Jakarta. Jauh dan dekatnya jarak dari satu tempat ke tempat lain di sini bisa ditentuin lewat skala hitung waktu maupun jarak itu sendiri. Dibilang jauh ya enggak tapi bisa sampe berjam-jam. Kenapa gitu? Ya macet. Jarak menjadi hal yang relatif.
Menurutku orang-orang disini juga psikologinya agak terguncang. Mereka adalah insan yang high temper. Marah-marah mulu hobinya, klakson klakson, ngomel dan umpatan adalah menjadi kebiasaan. Mereka juga hidup individual, maksudnya susah banget bersikap baik dan ramah disini. Yang ada malah jadi sasaran orang-orang yang memiliki kepentingan negatif. Kalo kata sepupuku "Cewek di Jakarta wajib jutek." Iya ada benernya juga.
Suka agak serem kalo diboncengin naik motor di sini. Kaki kanan dan kiri sering banget keserempet, atau ga sengaja kesenggol. Kesenggol aspal, kesenggol tiang, kesenggol ban truck, kesenggol mobil orang, dan kesenggol kesenggol ekstrim yang lainnya. Jarak antara dua mobil yang sekiranya pas buat dilewatin motor walaupun mepet adalah mengerikan. Tapi beneran, kalo ngga kayak gitu ya kita ngga bisa ngejar waktu. Sungguh. Sangat. Menakjubkan.
Mall di Jakarta udah kayak Indomaret di Jogja. Kayaknya tiap kelurahan di sini pasti ada mall nya. Mall. Lurus dikit mall. Muter jalan mall. Jalan dikit kanan mall kiri mall. Mall. Orang-orang di Jakarta gaya hidupnya agak berlebihan. Jarang liat orang yang dandannya biasa aja. Baik yang level hi maupun low. Semuanya total dengan caranya mereka masing-masing. Hari-hari pertama sempet ikut hanyut pada hempasan gaya hidup konsumeris karena yang tidak ada di Jogja dan ada di Jakarta itu banyak. Aku merasa mentalku kurang kuat.
Jujur, aku melonggo pas liat bangunan-bangunan pencakar langit di Jakarta. Serius. Bisa gitu ya. Banyak lagi. Hahahaha. Masyaallah. Gapapa kan pengalaman pertama.
Kesimpulan menantang diri sendiri di Jakarta kali ini membuatku terpikir untuk tidak hidup di sana. Soalnya hidup cuma sekali.

Jumat, 22 Mei 2015

Adrenaline

I want to soar up into the sky with space suit. Or sit on ferris wheel in high speed, spinning for hours. Or do bungee jumping from a cliff.
But all I can do is just sitting on carousel with colorful lights.

Kamis, 07 Mei 2015

Glasses

I did my last photo exhibition with some cool kids who interested with photography things. We gathered and given workshops about photography by Mas Wid, Mas Galatia and Mas Fehung as our mentors. We brainstormed by them to explore our ideas as wild as we want. They all so good and they goodly help us.Well I got quite excited with this because the cool part was... We have to take any photos with camera phone. Only camera in our cellphone. For me it was the first time ever and very challenging. I'm not sure whether my camera phone could work properly cause yea you know my phone is a vintage which it couldnt find the focus by itself. And the photos was extreamly blury when it took on a dim light. However, my camera phone still in a worse quality resolution. But it's okay. We wont talk about the resolution but ideas. I was in depression on finding the ideas, first day at meeting everyone has their own ideas and they could presented it well, except me. Ah... I should thought something deeper about me and something I couldn't life with. First, I thought about my parents. But it would be so mainstream, cause my friend once chose that theme on his last exhibition. On the second meeting I still havent brought any idea there to be presented while the other was already started taking pictures. Day by day, I was on my limit. I dont know when the ideas come over my brain, seems like the brain need a storm, literally storm. Then... Glasses. I couldnt life without glasses, I couldnt see the world clearly without glasses, and almost everyday I wear glasses. I never know how something small and trivial could give me a great big thing. Glasses is just a pair of glass with a small convex lens that framed. It's just a little thing but with it I could do my life.

Kacamata ke entah nomer berapa yang sudah berjuang sangat berat karena berkali-kali dilem tapi tetap bertahan dipakai.

Senin, 13 April 2015

Liat Gunung-Gunung

Temen jalan-jalanku ada yang pernah nanya "Kira-kira bisa ngga ya orang pergi travelling tanpa gadget (smartphone/kamera)?" Mmm... Menurutku bisa aja. Tergantung tujuan travelling kita itu buat apa. Kalo emang buat refreshing, vacation semacam yang real real real sweet escape yang membutuhkan ketenangan (kind of relaxing moment) ya mungkin aja ga terlalu butuh. But for me personally, aku akan membutuhkannya. But it doesnt mean liburan yang aku lakukan semata-mata cuma buat taking photos doang. Ya refreshing juga. Kalo smartphone mungkin ngga terlalu kali ya, karena masalahnya smartphoneku doesn't have a maximum quality for image capturing (first world problem). Tapi kalo kamera mmm pasti akan sangat dibutuhkan. Gimana ya... Rasanya udah jauh-jauh, pake perjuangan, dan pasti penuh cerita. Tapi ngga ada foto sebagai bukti. Which I'm not a good story teller, orally even when in writings. Jadi foto menjadi mediaku bercerita. Setidaknya perjalanannya menyisakan sesuatu untuk dibagi dan dipamerkan. Literally pamer. Lewat instagram. Pfff.
Basically, I aint a real traveller like the others do nowadays. Maksudnya traveller yang tipe extream nature explorer gitu, kayak naik gunung rinjani atau diving di raja ampat atau sebangsanya. Soalnya kalo ada di level 1-10, paling aku masih ada di nomer 4. Masih yang jalan-jalan keluar kota aja, yang ngecamp di pinggir pantai, yang masih baru naik gunung prau aja, yang ngga diving tapi snorkeling aja di menjangan. But still in my leisure time, aku suka sekali jalan-jalan dan packing untuk jalan-jalan. Mmm... Lagian travelling jaman sekarang penuh dengan prestige. Gear dan tujuan tripnya sungguh luar biasa.
Well. Beberapa hari lalu temen-temen plesir mengagendakan jalan-jalan ke daerah dieng. Tapi ngga sampe ke dieng, masih agak bawah, ke posong namanya. Aku ngga tau itu bukit atau apa ya jenisnya, tapi kita bisa liat beberapa gunung dari sana. Sindoro, sumbing, merapi, merbabu, dan ada beberapa aku yang ngga tau gunung apa namanya. Bagus, waktu sunrise. 





Rabu, 01 April 2015

March

March has just passed. March left me tons of happiness, gave me much joyful moments and new friends. March is so me. My birthday was on March and now I'm 21 years old. Looks like time is running in a rush right. I did short trip vacation to Bandung, completed my personal project photo with All You Can Art, re-doing my old activities (made some fun project with paper and withered flowers). I'm not watching a lot movies lately, it indicates that I was pretty busy. And still could having a good time with best friends.
And I find a lot of new things when I was experimenting and when having a talk with people. I really adore smart people. Like they could stole my fully attention. How they were talk, or when they pull out their own opinions and make an argue cleverly. Good. Then I start to applying my weird ideas into real. Ah... I realized that I was a bit changed. I began to accept the otherness that is going around me. The most difficult thing in life is against yourself, but yeah I did it. At least I begin to try. I'm trying to build the "atmosphere", starting the conversation which I never did it before. It is no longer awkward. Myself deserve rewards. Haha. Something good comes through a long process.